Selama mengikuti perkembangan penyergapan kelompok teroris di Temanggung, Jawa Tengah oleh kepolisian (Den 88) pada hari Jumat sore tgl 7 Agustus 2009 sampai keesokan harinya (Sabtu) yang ditayangkan secara langsung oleh hampir seluruh stasiun televisi nasional, tidak ada yang istimewa saya rasakan. Peristiwanya persis dengan penyergapan Dr. Azahari di Batu, Malang. Tetapi ketika pada konferensi pers pak Kapolri menyatakan bahwa rencana pemboman berikutnya adalah kediaman pribadi presiden RI di Cikeas, Bogor saya jadi terkesima. Alasannya adalah sebagai balas dendam kepada presiden yang menolak grasi Amrozi cs sehingga ketiga terpidana mati tersebut dieksekusi mati. Ini adalah keputusan yang diambil para teroris ketika berkumpul di Kuningan, Jawa Barat yang mana juga dihadiri oleh Noordin M. Top dan Ibrahim mantan karyawan JW Marriot dan Ritz Carlton. Suatu alasan yang salah karena yang memutuskan perkara tersebut adalah pengadilan dan para terpidana mati menolak meminta grasi walaupun para pengacara mereka toh melakukannya. Lokasi perakitan bom pun hanya berjarak 12 menit perjalanan macet dari kediaman presiden dan 600 kg bahan peledak beserta detonatornya sudah disiapkan berikut dengan kendaraan pengangkut dan pelaksana lapangan (”pengantin”). Tinggal menunggu hari H- nya saja yaitu dalam dua minggu kedepan. Begitulah skenario yang sudah dirancang dan dijalani oleh para teroris sesuai dengan kesaksian para teroris yang tertangkap dan olah TKP yang dilakukan kepolisian.

Peristiwa ini bermula dengan tertangkapnya Amir Abdillah- sang pemesan kamar 1808 di hotel JW Marriot- pada tgl 5 Agustus 2009 di Jakarta Utara. Dari mulut Amir Abdillah inilah diketahui lokasi para teroris lainnya. Ternyata lokasi markas mereka adalah di perumahan Puri Nusa Phala, Jati Asih, Bekasi. Polisipun segera melakukan pengintaian dengan menyamar sebagai buruh bangunan dirumah yang berdekatan dan sempat mengambil beberapa photo penghuni dan orang-orang yang pernah mampir ke rumah tersebut. Salah satu photo memperlihatkan ciri-ciri phisik gembong teroris yang tengah dicari yaitu Noordin M. Top. Karena alasan agar tidak menimbulkan korban yang besar, polisi baru melakukan penyergapan empat hari kemudian yaitu tgl 8 Agustus 2009. Hasil penyergapan, dua orang meninggal tertembak dan tiga orang berhasil ditangkap. Dari keterangan saksi yang tertangkap inilah dan bukti yang ditemukan di TKP terkuak rencana pemboman berikutnya. Dari interogasi yang dilakukan diketahui bahwa yang akan melaksanakan bom bunuh diri dengan cara meledakkan satu truk bahan peledak adalah Ibrahim, mantan karyawan JW Marriot dan Ritz Carlton yang sedang dicari-cari polisi. Ibrahim ternyata adalah lulusan Pakistan yang berhasil “diselundupkan” sebagai karyawan hotel Ritz Carlton dan JW Marriot dua tahun lalu. Ibrahim berhasil menjadi karyawan dan bertugas sebagai floorist (tukang bunga). Melalui dialah segala sesuatu diselundupkan kedalam kedua hotel tersebut sampai kegiatan memata-matai keamanan hotel. Peledakan kedua hotel tersebut berlangsung dengan baik walaupun tidak sesuai dengan rencana mereka seratus persen. Bom dikamar 1808 tidak meledak seperti yang diharapkan. Rencananya, bom dikamar 1808 meledak terlebih dahulu sehingga menimbulkan kepanikan kepada penghuni hotel sehingga diadakan evakuasi darurat. Ketika inilah akan terjadi penggerombolan massa di lantai dasar dan saat itulah bom kedua akan diledakkan. Kalau rencana ini berjalan sesuai rencana mereka, sudah pasti korban berjatuhan akan berjumlah seratusan orang. Korban yang begini besar tentu akan menimbulkan dampak yang luar biasa, dan para teroris ini akan lebih ditakuti. Tapi entah mengapa, bom dikamar 1808 tidak meledak walaupun sudah dalam keadaan aktip. Bom ini kemudian berhasil dijinakkan oleh team Gegana. Polisi kemudian memeriksa semua rekaman CCTV yang ada dan menemukan gelagat yang mencurigakan pada diri Ibrahim. Pada hari kejadian Ibrahim tidak masuk kerja dan sudah minta berhenti pada majikannya. Polisi kemudian menyatakan Ibrahim buron karena tak diketahui rimbanya.

Kepolisian telah menunjukkan komitmennya dengan brilian. Dalam waktu empat hari dapat menewaskan tiga teroris dan menangkap enam teroris lainnya. Suatu prestasi yang luar biasa. Presiden SBY pun kemudian dalam konferensi persnya menyatakan akan terus memburu para teroris karena ini bukanlah akhir. Sesuai dengan pola organisasinya, para teroris akan membentuk sel-sel baru dengan pimpinan baru, suatu PR yang berat buat Polri. Kapolri menyatakan bahwa satu-satunya cara yang efektif membendung aksi teror adalah adanya partisipasi masyarakat yang tidak masa bodoh terhadap lingkungannya. Lihat saja tempat tinggal para teroris yang berada dikawasan padat huni dan tidak ada yang mencurigai aktivitas yang mereka lakukan.

Seandainya saja rencana ini berjalan sesuai harapan mereka saya tidak bisa membayangkan dampaknya bagi bangsa ini. Sekarang sajapun hasil pemilu legislatip dan pemilu presiden/wapres masih disidangkan di Mahkamah Konstitusi. Bagaimana jika presidennya keburu dibom. Okelah Jusuf  Kala akan menggantikan beliau sesuai konstitusi sampai Oktober 2009, yang saya khawatirkan bagaimana jika MK memutuskan bahwa SBY dan Budiyono adalah pemenang pemilu eksekutif. Lantas siapa yang akan memimpin negara ini setelah Oktober 2009. Budiyonokah?. Para politisi pasti akan meributkan ini dan akan senantiasa mempertanyakan legitimasi pemerintahan yang baru dan mencari kesempatan untuk merebut kekuasaan karena toh undang-undang mengenai keadaan ini belum ada.  Apalagi kalau Mahkamah konstitusi memutuskan pemilu ulang, bagaimana pula ini. Di negara ini para politisi belum mempunyai etika politik. Tidak ada nasionalisme, yang ada ialah jabatan, rakyat nomor sekian. Negara bisa chaos. Dengan penyergapan dan penangkapan para teroris yang berhasil dilakukan polisi ini, mudah-mudahan kubu Megawati-Prabowo dan Jusuf Kala-Wiranto dapat menarik tuduhannya kepada presiden SBY perihal tudingan SBY akan adanya aksi teroris yang  berusaha membunuhnya karena memenangi pemilu dalam suatu konfrensi pers di istana negara tak lama setelah terjadinya aksi bom di JW Marriot dan Ritz Carlton. Bersikaplah sebagai negarawan, kepentingan negara jauh diatas kepentingan partai dan kelompok.

Belum lagi peristiwa ini selesai, sekarang ini sudah timbul pergunjingan akan mayat korban di Temanggung yang diduga mayat Noerdin M. Top. Pihak kepolisian sendiri belum berani memberikan keterangan seputar hal ini karena kepolisian tidak mempunyai data-data sidik jari, cetak gigi, maupun DNA Noordin M. Top. Tunggulah sampai minggu depan, kata kapolri, karena yang bisa dilakukan sekarang adalah mencocokkan DNA korban dengan DNA anak dan istrinya yang berada di Malaysia. Untuk sidik jari dan cetak gigi tidak bisa dilakukan karena pihak kepolisian Malaysia pun tidak memilikinya. Selama menunggu kepastian inilah akan berkembang isu yang macam-macam.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?